Analisis
FLYING DRUNK
Oleh : Budi Gunawan (Pemerhati Kebijakan Publik)
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
  • The engine is the heart of an airplane, but the pilot is its soul.

    Ungkapan Walter Raleigh ini menunjukkan betapa krusialnya peran pilot, bahkan melebihi mesin pesawat itu sendiri. Sastrawan Inggris ini tentu tak keliru jika menyebut pilot sebagai jiwa dari sebuah pesawat. Sebab, pilot-lah yang memegang kendali, bukan sebaliknya. Namun sayangnya pesan Raleigh ini hanya bergema di belahan dunia barat.

    Apa yang dikatakan Raleigh ini bukannya tak terdengar di belahan dunia lainnya. Namun karena pendekatan yang berbeda, mesin menjadi lebih penting dari pilot. Akibatnya hanya kelaikan mesin yang dipastikan setiap kali akan terbang. Sedangkan untuk awaknya, cukup dilakukan pemeriksaan setiap enam bulan sekali. Sementara di barat, selain mesin, pengawasan yang sama ketatnya juga dilakukan di airport terhadap awak pesawat setiap kali hendak terbang. Perbedaan orientasi menyebabkan aplikasinya berbeda.

    Perbedaan orientasi dan aplikasi ini pada akhirnya juga melahirkan fenomena yang berbeda, seperti di negeri kita sendiri misalnya. Pertama, penindakan terhadap awak pesawat tidak terjadi di bandara, namun di hotel maupun tempat hiburan malam. Kedua, pengawasan terhadap awak pesawat bukan dilakukan oleh otoritas keamanan penerbangan, namun justru dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional. Anomali semacam ini tentu sangat ironis di tengah maraknya industri penerbangan di tanah air.

    Di barat, fenomena semacam itu tidak terjadi. Semua berlangsung dalam koridor penerbangan. Awak pesawat selalu tertangkap di airport dan dilakukan oleh otoritas keamanan penerbangan. Ketatnya pola pengawasan terhadap awak pesawat ini tergambar dengan jelas dalam buku Flying Drunk, sebuah kisah nyata yang ditulis oleh seorang flight engineer.

    Flying Drunk yang dituturkan oleh Joseph Balzer mengisahkan bagaimana tiga orang awak kokpit menerbangkan pesawat komersial dalam pengaruh alkohol. Penerbangan Northwest Airlines Boeing 727 dengan 91 penumpang dari Fargo menuju Minneapolis pada 8 Maret 1990 tersebut segera menjadi headlines berbagai media terkemuka dan membuat publik Amerika terhenyak geram. Ketiga awak kokpit Northwest Airlines tersebut langsung diborgol setibanya di Minneapolis dan empat bulan berselang divonis hukuman penjara oleh pengadilan.

    Flying Drunk bukanlah satu-satunya kisah pilot yang ditangkap karena mabuk. Masih banyak kisah lainnya, dari London hingga Amsterdam. Namun semuanya memiliki kesamaan. Para pilot ditangkap di airport dan berakhir di bui, tak sekedar dicabut lisensinya. Banyaknya pilot yang tertangkap ini di sisi lain menunjukkan keberhasilan pola pengawasan yang diterapkan dan merubah perilaku awak lainnya.  Breathalyzer tests atau tes kandungan alkohol yang dilakukan di airport memang berhasil memangkas kebiasaan awak pesawat mengarungi hiburan malam di kota transit.

    Tingginya angka pilot yang ditangkap karena mabuk saat bertugas, tak hanya terjadi di barat saja, namun juga terjadi di timur. Di India saja, dari Januari 2009 hingga November 2010, sebanyak 57 orang pilot tertangkap karena mabuk saat bertugas. Dengan derasnya fenomena semacam itu, tertangkapnya hanya empat orang pilot di negeri ini dalam rentang waktu setahun dan hanya dari satu maskapai saja menjadi sebuah ambiguitas.

    Pertama, ini bisa menjadi semacam pembelaan bahwa dunia penerbangan di Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lainnya. Apalagi empat orang pilot tersebut tertangkap bukan saat bertugas. Kedua, minimnya jumlah awak pesawat yang ditangkap karena pengaruh alkohol maupun narkoba, bisa jadi merupakan alarm peringatan betapa lemahnya pengawasan penerbangan di negeri ini.

    Jika melihat pada fenomena yang terjadi di berbagai belahan dunia tersebut, nampaknya kemungkinan kedua lebih mendekati kebenaran. Apalagi salah seorang pilot yang tertangkap mengakui bahwa penggunaan sabu sudah menjadi gaya hidup awak penerbangan. Hal ini juga diperkuat oleh pengakuan seorang mantan pramugari yang menduga 60 persen pilot dan pramugari maskapai swasta memakai narkoba saat bertugas. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah penyebab munculnya fenomena ini.

    Kehidupan malam nampaknya memang akrab dengan para kru pesawat, terutama saat berada jauh dari rumah. Alasan mereka menenggak alkohol atau obat-obatan terlarang adalah sebagai kompensasi dari tekanan pekerjaan yang menghimpit. CASR (Civil Aviation Safety Regulation) dengan tegas mengatur bahwa batas maksimum seorang pilot untuk terbang adalah 30 jam dalam seminggu. Namun dalam praktiknya, di berbagai maskapai swasta, para awak pesawat bisa terbang hingga 12 jam per hari, terutama pada peak seasons. Ini artinya dalam sepekan mereka bisa terbang lebih dari 70 jam. Alkohol dan sabu kemudian menjadi kompensasi atas beban tugas yang berlipat ganda ini.

    Setidaknya ada dua solusi yang harus dilakukan untuk mencegah fenomena Flying Drunk ini. Pertama, seperti kata Walter Raleigh di atas, maskapai harus lebih memperhatikan kelaikan terbang pilotnya, terutama dalam hal jam kerja. Para awak bukanlah mesin yang dapat dieksploitasi dan bekerja lebih dari 30 jam per pekan. Kedua, otoritas keamanan penerbangan harus merubah pola pengawasannya, seperti melakukan tes urine maupun breathalyzer tests kepada seluruh awak sebelum melakukan penerbangan. Tak adil jika pemeriksaan hanya dilakukan kepada pesawat, bagasi dan penumpang saja. Justru para kru memainkan peran yang sangat vital bagi keselamatan penerbangan.

    Tentu ada sebagian pihak yang menampik solusi semacam ini karena statistik awak pesawat yang terlibat narkoba belum mencapai angka yang mengkhawatirkan. Hal semacam ini juga terjadi di India. Namun ketika otoritas India melakukan tes secara acak sebelum terbang, dalam waktu setahun saja 57 orang telah terjerat. Jika hal yang sama dilakukan di negeri ini, mungkin angkanya juga akan membuat kita tercengang.

    Tanpa perubahan mekanisme pengawasan, persoalan transportasi di negeri ini akan selalu melahirkan kegetiran. Naik angkot diperkosa, naik bus pengemudinya ugal-ugalan, naik pesawat lebih ngeri lagi karena awaknya sakau.

    * * * * *
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]