Forum Utama
Dedi ‘Pitung’ dari Batam
Oleh : Muhammad Agus Fajri (Batam)
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
PERAMPOK DERMAWAN: Dedi paling kanan dan barang-barang hasil rampokan dari rumah-rumah mewah di Batam (radarsukabumi.com)
  • Polisi membekuk sindikat perampok rumah-rumah mewah di Batam. Dalam beraksi, pimpinan sindikat ini ternyata kerap beraksi di Malaysia, Thailand, dan Hongkong. Sebagian hasil ‘kerjanya’ dibagikan kepada warga miskin.

    Tak ada raut seram. Wajahnya cukup ganteng dengan rambut yang sebagian sudah dihiasi uban. Ia juga diketahui sangat menyayangi anak-anak dan fakir miskin. Bahkan, beberapa anak putus sekolah, pendidikannya dibiayai hingga tuntas.

    Namun, di balik senyumnya yang tulus, Dedi Irawan yang masih berusia 38 tahun ini, memiliki keistimewaan di bidang kejahatan. Merampok rumah mewah sebagai spesialisasinya. Tidak hanya di Batam. Ia sempat melebarkan sayap hingga ke beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, hingga Hongkong. Sudah tak terhitung berapa kali ia beraksi. Dan, setiap beraksi hasil yang diperoleh selalu di atas Rp1 miliar.

    Karena seringnya memberikan bantuan kepada warga miskin, Dedi yang tertangkap polisi  setelah aksi terakhirnya di Perumahan Anggrek Mas II, Selasa dua pekan lalu, kerap dilekatkan dengan sosok Robin Hood dari Inggris atau Si Pitung dari Betawi.

    Kedermawanannya tersebut diungkapkan sejumlah warga di kawasan rumah liar (Ruli) Melchem, RT 02, RW 05, Tanjungsengkuang, Batam. Dedi sebenarnya memiliki rumah di Perumahan Cipta Emerald, Batam. Tetapi ia lebih sering tinggal di Ruli Melcem yang sekaligus dijadikannya sebagai base camp Lembaga Swadaya Masyarakat  (LSM) Peduli Nusantara.

    Di tempat ini namanya cukup harum. Mulai dari ujung jalan hingga ke kantor LSM yang semi permanen tersebut semua orang mengenalnya. Teka terkecuali anak-anak. Sebelum tertangkap, kantor LSM itu selalu dipenuhi warga, hanya untuk sekadar nongkrong.

    Di depan kantor itu berdiri dengan gagah bendera merah putih yang diapit bendera LSM Peduli Nusantara. Sedangkan di bagian belakang, Dedi membuat kandang ayam ala kadarnya. Ayam peliharaannya selalu dibagi-bagikan pada hari-hari besar keagamaan maupun hasri besar nasional.

    “Pak Dedi itu sukanya hanya pelihara dan kasih makan ayam. Setelah besar, justru warga yang menikmati. Tak pernah sekali pun ayam peliharaannya itu dijual,” papar beberapa warga yang benar-benar tidak percaya kalau Dedi adalah otak sindikat perampok rumah-rumah mewah di Batam.

    Kedermawanan sosok Dedi ini dibenarkan Agus Margani, Ketua RW 05, Tanjungsengkuang. “Sebelum kantor ini digerebek, warga tiap sore dan malam selalu berkumpul di sini. Ngobrol-ngobrol aja. Pak Dedi tak pernah melarang warga main di kantornya. Justru dia menyarankan warga untuk tak segan main di kantornya,” papar Agus.

    Memang, kata Agus, orang yang keluar-masuk ke kantor tersebut datangnya selalu menjelang magrib. Tidak pernah pagi ataupun siang hari. Karena tak pernah melakukan keonaran serta Dedi yang selalu berderma, warga pun tak berpikiran macam-macam.

    “Zaman sekarang ini susah mencari orang seperti Pak Dedi. Kebaikan dan kedermawanannya kepada warga yang membutuhkan sangat luar biasa. Akses masuk menuju kampung ini maupun penerangan di makam warga, semua dibiayai Pak Dedi,” terang Agus.

    Rasa sedih atas penangkapan Dedi juga dilontarkan Salim, warga Melchem lainnya. “Dia itu orangnya santun. Dua anak perempuan saya, yang SMP dan SD, dari pertama sampai sebelum kasus ini mencuat, dibantu penuh biaya sekolahnya,” kata Salim, yang kehidupan ekonominya memang cukup prihatin.

    Tidak hanya itu, ketika anaknya terserang demam berdarah, Dedi pun membawanya langsung ke rumah sakit. Kemudian menanggung seluruh biayanya hingga sembuah. “Semoga polisi bisa mempertimbangkan perbuatannya itu dengan perbuatan baiknya kepada warga di sini,” kata Salim memohon.

    Harapan agar Dedi mendapat keringanan hukuman juga diutarakan ibu-ibu yang ditemui FORUM. Mereka mengatakan, setiap pekan, Dedi selalu mengumpulkan anak yatim untuk kemudian diberi santunan. “Saya berharap agar Pak Dedi tidak dihukum berat. Dia orangnya seperti Si Pitung di Betawi yang muncul lagi pada zaman ini,” papar sejumlah ibu-ibu.

    Ibarat pepatah, tangan kanan member tangan kanan tidak boleh tahu, Dedi yang ditemui di Polresta Bareleng, mengatakan warga terlalu melebih-lebihkan kedermawanannya. Menurut ‘Si Pitung’ dari Batam ini, apa yang diterima warga itu adalah hak mereka, sedangkan dirinya hanyalah perantara.

    Dedi punya empat anak hasil pernikahan dengan dua istri. Dia bercerai dari istri pertamanya beberapa tahun lalu. Mantan istri dan kedua anak Dedi dari istri pertamanya itu kini tinggal di Palembang. “Saya tak pernah merasa membantu warga, apalagi sampai bangun masjid. Warga saja yang berlebihan,” tuturnya ketika ditanya apakah Masjid An-Nur yang ada di kawasan itu merupakan hasil sumbangsihnya.

    Dalam melakukan aksi, Dedi tidak sendiri. Tiga rekannya, Bambang, Rusli, dan Suep kerap diajak serta. Dedi biasanya berperan sebagai pengendara mobil dan perancang setiap aksi. Untuk menentukan haris eksekusi, Dedi dan kawan-kawannya biasanya melakukan survey selama tiga hari hingga sepekan.

    Mereka mempelajari seluk-beluk rumah dan aktivitas penghuninya. Mulai kapan pemilik rumah keluar, bagaimana pengamanan di perumahan tersebut, akses keluar masuk, hingga kebiasaan pemilik rumah.

    “Kami tak mungkin berani masuk rumah tersebut kalau tak mempelajari dulu. Waktu tiga hari untuk mengintai dan mempelajari itu belum tentu langsung kami eksekusi. Kalau memang situasi dan kondisinya tak memungkinkan, ya kami tidak lakukan. Bila merasa sudah yakin, baru kami bergerak,” ungkap Dedi.

    Keunikan kawanan ini juga terlihat dari peralatan yang dibawa saat beraksi. Tidak seperti perampok lain yang menggunakan golok atau bahkan senjata api, Dedi hanya mempersenjatai dirinya dengan sebilah pisau kecil dan linggis. “Pisau hanya untuk mengancam korban. Sedangkan linggis dipersiapkan untuk mencongkel pintu atau jendela,” papar Dedi.

    Untuk mengelabui korbannya, Dedi cs terkadang datang dengan berdalih sebagai tukang renovasi interior rumah. Seperti kasus perampokan di Puri Casablanca, dua bulan lalu. Saat kejadian, hanya ada pembantu dan dua anak sang pemilik rumah. Hal itu memudahkan Dedi cs dalam beraksi. Setelah mengecoh pembantu rumah, mereka sukses menggondol brankas yang berisi uang tunai dan perhiasan senilai Rp1,8 miliar.

    Soal apes, penangkapan oleh Polresta Barelang bukanlah yang pertama dirasakan Dedi. Bahkan tiga butir peluru sempat bersarang di perut dan paha kanannya saat beraksi di Johor, Malaysia.

    Dedi mengaku senang beraksi di Malaysia karena dengan beberapa ringgit uang jaminan, petugas di negeri jiran itu bisa membebaskannya dari tahanan. Selama dua tahun di Malaysia (1998-2000), Dedi berhasil menghimpun tujuh orang anggota dari berbagai negara, seperti India dan Tiongkok, untuk merampok nasabah bank.

    “Saya lama di Malaysia. Saya mengajak orang-orang pengangguran merampok nasabah bank. Sama seperti di Batam, semua saya yang merancang dan mengoordinasi tim yang saya buat. Saya dapat kenalan preman di Malaysia dari kawan satu kampung yang tinggal di sana dan merampok juga. Saya sering kena tangkap bersama komplotan di Johor. Namun, tidak pernah lama di penjara. Saya jaminkan beberapa ribu ringgit ke Polisi Diraja Malaysia dan mereka langsung melepas saya,” paparnya.

    Dedi mengaku Singapura merupakan negara yang cukup berat dijalani sebagai perampok. Ia beralasan, negara dengan lambang Singa Merlion itu pengamanannya cukup ketat. “Saya sekali saja merampok nasabah bank di Singapura dan berhasil lolos. Saya tak mau lagi seandainya bebas nanti merampok ke Singapura. Sama juga bunuh diri,” katanya. Ia meraup Rp1,5 miliar di Singapura, hasil dari merampok seorang nasabah bank.

    Kepada wartawan, Dedi menjelaskan, bahwa dirinya tidak pernah menarget korban yang ekonominya pas-pasan. “Saya tak pernah merampok atau membobol rumah orang yang pas-pasan ekonominya. Itu pedoman saya. Target saya hanya orang yang benar-benar kaya tingkat ekonominya,” terang Dedi.

    Ia kemudian mengisahkan kasus perampokannya di Johor pada 2003 bersama tujuh komplotannya. Hasilnya Rp2,5 miliar. tetapi, aksi itu tercium polisi Diraja Malaysia. Dalam sebuah penggerebekan, perut Dedi terkena tembakan dua timah panas. Satu peluru lainnya bersarang di paha kanan. Dia berhasil meloloskan diri ke Tanjung Pinang dengan menyewa sebuah kapal dan kemudian dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut.

    Setelah timah panas dikeluarkan dari perutnya, Polres Tanjung Pinang menciduknya. Ia kemudian disidang di Jakarta dan divonis enam bulan. Tahun 2004 ia bebas dan kemudian kembali ke Batam. Pada 2010, ia juga sempat ditahan empat bulan di Polresta Barelang akibat menikam orang di Diskotik Pasific, Batam.

    Ia pun mengaku belum tahu harus berbuat apa setelah kelak bebas dari penjara. “Bisa saja saya berhenti. Namun, bisa saja timbul niat lagi. Saya rindu kepada kawan-kawan di Malaysia,” katanya.

    Hal menarik lainnya, Dedi mengaku tidak pernah menggunakan uangnya untuk berbuat maksiat semisal, berjudi atau main perempuan. Sifat-sifat itu tentu mirip dengan Robon Hood dari Nottingham Forest, Inggris, atau Si Pitung, jawara daru Betawi.

    Memang tak dapat dipungkiri, aksi Dedi cs ini akhirnya dikaitkan dengan  sejumlah sosok fenomenal yang mencuri dari si kaya dan menyerahkan sebagian hasilnya kepada si miskin.

    Melihat letak markas Dedi yang berada di tengah-tengah pemukiman miskin menambah sensasi tersebut. Polresta Barelang pun telah mencap Dedi sebagai otak pelaku sindikat perampok spesialisasi rumah mewah di Batam.

    Agus Margani yang berjualan sembako tak jauh dari markas Dedi mengatakan, selama tiga tahun sebagai warga di tempat itu, tidak ada satupun aktivitas Dedi yang menimbulkan kecurigaan masyarakat. “Sejak pertama kali melapor kepada RT dan saya sebagai RW, perilaku dan cara dia bicarapun sangat sopan,” jelas Agus.

    Warga tahunya, Dedi dan anggota LSM-nya adalah warga yang baik dan sangat social serta mau bermasyarakat. Merupakan sosok ketua LSM yang     sangat peduli dan selalu membantu kesusahan masyarakat setiap dibutuhkan. Serta sesekali ke luar negeri. 

    Akibatnya, berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan  yang dilakukan Dedi dikira warga sebagai program LSM Peduli Nusantara yang didirikan sejak 2009 lalu. Seperti membantu pembangunan Mesjid An Nur, pembuatan jalan lingkungan bersama warga, pembuatan lapangan badminton dan berbagai hal yang bersifat untuk kepentingan warga.

    Seiring berjalannya waktu, bantuan-bantuan dari LSM itu lebih sering mengatasnamankan hamba Allah. Bantuan pun kerap disalurkan melalui tangan orang lain. Setiap bantuan selalu diwanti-wanti agar tidak mencantumkan namanya, tetapi dari hamba Allah. Tetapi karena bantuan itu diberikan secara rutin, warga pun tahu bahwa yang member adalah Dedi.

    Tidak terbatas di lingkungan pemukiman liar itu. Derma yang dilakukan Dedi juga diberikan secara rutin kepada sejumlah panti asuhan dan tempat-tempat ibadah di Kecamatan Batu Ampar.

    Ketika bencana tsunami melanda Mentawai dan letusan Gunung Merapi di Yokyakarta, Dedi pun mengulurkan bantuannya. Bersama warga dia membeli bekoli-koli pakaian bekas kemudian disortir dan dikirimkan langsung ke lokasi bencana.

    Suatu ketika saat sedang kumpul dengan warga, ada yang nyeletuk bertanya kenapa setiap bantuannya tidak menyebut namanya. Mendapat pertanyaan itu, Dedi dengan santai mengatakan, apa yang diberikannya tersebut memeng rezeki yang menerima. “Saya ini hanya perantara saja,” kata Dedi, papar Agus menirukan jawabannya.

    Sebagaimana umumnya umat Islam, kata Agus, sesekali Dedi ikut menggabungkan diri dalam beberapa ritual keagamaan di Mesjid An Nur sebagai makmum. Perilaku premanisme yang identik dengan kekerasan, dan mengganggu ketentraman benar-benar tidak ada se-ujung kuku pun.

    Kapoltabes Barelang Kombes Pol Karyoto yang dimintai komentar mengenai aksi sosial Dedi ini tak mau berkomentar. Karyoto terkesan sangat alergi dengan aksi kejahatan dan sosial Dedi yang dikaitkan dengan ketokohan Robin Hood.Kasatreskrim Polresta Barelang Kompol Yos Guntur pun tak mau berkomentar.

    Komentar terkait penangkapan ini akhirnya diperoleh dari Kanit IV Jatantras Reskrim Polresta Barelang, Iptu Cristian Panjaitan. Menurut Cristian, tertangkapnya Dedi cs karena jajarannya sudah mengintai sejumlah kasus perampokan yang memiliki kemiripan modus dengan aksi terakhir di Perumahan Anggrek Mas 2 Blok C2 Nomor 12, Batam Centre yang rumahnya dibobol kawanan perampok, Senin dua pekan lalu.

    Karena adanya kemiripan terhadap beberapa kejahatan yang terjadi sebelumnya maka Polisi menarik kesimpulan bahwa aksi kejahatan itu dilakukan oleh komplotan yang sama. Dengan kesimpulan tersebut polisi kemudian melakukan pengintaian dengan menelusuri beberapa titik yang dijadikan tempat persembunyian para pelaku.

    “Tempat kumpulnya para penjahat sudah kita kantongi, pada momen ini kita baru meyakininya. Maka anggota kita kerahkan ke persembunyian yang dituju di kawasan rumah liar (ruli) Melchem, Batuampar hingga tersangka diciduk,” kata Cristian.

    Polisi pertama kali menangkap Dedi, ketika hendak masuk ke markasnya dengan menggunakan mobil Avanza sekitar pukul 20.30 WIB. Dari hasil interogasi, polisi lalu menangkap Bambang dan Rusli yang berada di tempoat itu. Saat hendak ditangkap keduanya berusaha kabur dan memberikan perlawanan sehingga polisi terpaksa menghentikannya dengan menembak betis kanannya.

    Dari tangan mereka disita barang-barang mewah bermerek dan sejumlah perhiasan. Barang bukti itu ditemukan saat polisi menggerebek kantor LSM peduli Nusantara.

    Merampok Hingga ke Mancanegara

    Terlahir dengan nama Dedi Irmawan di daerah Plaju, Palembang tanggal 15 Maret 1974. Dedi merupakan anak kelima dari enam rang bersaudara. Ia sempat mengecap pendidikan di SMU Gajahmada, Palembang, tamat tahun 1986.

    Sebelum melakukan kejahatan di beberapa rumah mewah di Batam, dalam kurun waktu 13 tahun Dedi kerap melakukan perampokan nasabah bank di Malaysia, Hongkong, Singapura, dan Thailand. Dalam aksi di Malaysia, Dedi mengaku pernah ditembak polisi Diraja Malaysia tahun 2003 lalu.

    Untuk menyelamatkan diri Dedi kemudian kabur ke Tanjungpinang dan menjalani perawatan di RSAL. Dr Midiato S. Usai menjalani operasi mengeluarkan peluru yang bersarang diperutnya, Dedi langsung  ditangkap aparat Polresta Tanjungpinang. Ia kemudian dibawa ke Jakarta dan divonis enam bulan penjara dan bebas pada 2004.

    Aksi Dedi tidak sampai di situ, selama 2004-2009, ia kembali bergabung bersama kelompoknya untuk melakukan tindak kejahatan di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Hogkong.

    Pertengahaan 2009 Dedi balik ke Batam dan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Nusantara dan Koran Peduli Korupsi (KPK).
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Fokus Utama Lainnya
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]