Internasional
Iran-Israel Memulai Perang Rahasia
BOM THAILAND
Oleh : Erwin Purba
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
  • Personel keamanan Thailand memeriksa sisa-sisa ledakan bom sepeda motor di provinsi Pattani, Thailand, Selasa (13/12/2011). Foto: REUTERS/ Surapan Boonthanom
    Israel dan Iran diduga sedang memulai perang rahasia dengan memakai agen-agen intel di luar negeri. Bom-bom pun meledak di sekitar mereka.
       
    Sopir taksi itu panik ketika seorang pria berwajah Timur Tengah menggedor pintu kendaraannya yang sedang parkir di Jalan Sukhumvit, Bangkok, Selasa sore 14 Februari 2012. Sambil berbicara dalam bahasa yang tidak dipahami si sopir, pria yang sedang kebingungan itu berusaha membuka pintu dan naik ke dalam taksi. Merasa curiga, sopir taksi itu mengunci semua pintu dan berusaha menyalakan mesin mobilnya.
       
    Jengkel karena tidak bisa naik ke dalam taksi, pria bertubuh tinggi dengan kulit putih dan rambut hitam itu lalu melemparkan sebuah benda ke arah kaca belakang taksi itu. Barang yang diambil dari tas hitam yang dijinjingnya itu ternyata sebuah bom rakitan, yang lalu meledak dan melukai beberapa orang di sekitar taksi tersebut.
       
    Ledakan itu langsung mengundang kehadiran polisi seempat. Semakin panik karena melihat polisi berlari ke arahnya, si pria asing itu lalu melemparkan barang lagi ke arah para penegak hukum tersebut. Ternyata benda itu membentur pohon dan berbalik terlempar ke arahnya. Tak sempat mengelak lagi, kedua kaki si pria hancur dihajar ledakan bom yang cukup dahsyat.
       
    Aparat kepolisian Bangkok yang berhasil meringkusnya kembali dikagetkan oleh fakta bahwa masih ada bom-bom lain di dalam tas hitam tersebut. Pria itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Kluaynamthai untuk dirawat dan agar bisa diinterogasi oleh polisi. Dari paspor yang disita polisi, terungkap pria bernama Mohammad Hasai (42) dan  berkebangsaan Iran.

    Kepala Polisi sektor Klong Tan, Kolonel Sitthiparp Baiprasert, seperti dikutip harian The Nation, mengungkapkan bahwa pelaku menyewa rumah di Jalan Soi Pridi Phanomyong 36. Sebelum ledakan di jalan Sukhumvit, terjadi pula ledakan serupa di dalam rumah sewaan pelaku. Polisi yang mendatangi lokasi lalu mengejar pria bertas hitam yang berusaha kabur, namun dua pria lainnya yang keluar dari rumah yang sama berhasil lolos dari kejaran polisi.
       
    Kepolisian Thailand lalu menggelar perburuan buronan besar-besaran di seluruh Bangkok. Hasilnya, dua orang pria yang kabur dari rumah si  pembawa bom berhasil ditanhgkap di Bangkok. Seorang lagi dapat ditangkap Interpol di Malaysia ketika berusaha melarikan diri ke Teheran, Iran.
       
    Aparat keamanan Thailand kini terus memburu dua orang pria asal Iran yang diduga menjadi bagian dari komplotan ini. Salah seorang dari mereka diduga sebagai perakit bom profesional yang mengajari anggota-anggota lainnya untuk merakit bom. Ada pula seirang wanita yang ikut menyewa rumah bersama para tersangka, tapi kini diduga sudah kembali ke Iran.

    Dari keterangan pihak berwajib, media massa di Bangkok menyimpulkan bahwa bom-bom rakitan itu mungkin meledak ketika sedang dirakit. Sedangkan bom yang dilemparkan pria bertas hitam adalah bom yang memang siap diledakkan. Siapa target pengeboman itu belum diketahui.
       
    Namun demikian, karena pria yang tertangkap itu berkebangsaan Iran,  media massa pun ramai berspekulasi. Komplotan orang asing itu diduga adalah agen-agen intelijen dari Republik Islam Iran yang akan beraksi di Bangkok, Thailand. Targetnya diduga kuat adalah para diplomat Yahudi dan gedung Kedutaan Besar Israel di Bangkok.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand belum berasni memastikan apakah insiden bom di Bangkok itu terkait terorisme. Beberapa hari sebelumnya, sejumlah kedutaan besar asing di Bangkok mengeluarkan peringatan ancaman aksi teror.

    "Kami ingin mengingatkan warga AS untuk selalu waspada jika berada di tempat umum. Waspadalah terhadap barang tak bertuan di tempat umum dan melaporkan tindakan yang mencurigakan ke petugas keamanan terdekat," himbau Kedutaan Besar AS di Thailand dalam situs resminya, seperti dimuat CNN Rabu 15 Februari 2012.

    Kementerian Luar Negeri Inggris bahkan menghimbau warga Inggris untuk sementara waktu menghindari Thailand, terutama enam provinsi yang berpotensi tinggi mengalami serangan teroris. Dikutip Bangkok Post, daerah yang harus dihindari adalah Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai, Khon Kaen, Ubon Ratchathani, serta Udon Thani.

    Namun, spekulasi media massa Thailand  itu langsung dibesar-besarkan oleh pemerintah Israel.  Soalnya, Kedutaan Besar Israel di New Delhi, India, serta di Tbilisi, Georgia, baru saja mengalami serangan bom sehari sebelum aksi bom di Bangkok.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Iran sudah merusak stabilitas di dunia dan karena itu  harus dihentikan.Di depan Parlemen Israel, Netanyahu juga menuduh  bahwa Iran terlibat dalam peristiwa ledakan bom di India dan negara pecahan Uni Soviet, Georgia." Iran hanya berani menyerang diplomat yang tak bersala.h Bila agresi Iran tidak dihentikan, Iran akan menyerang negara-negara lain," ujar Netanyahu.

    Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, seperti dimuat situs CNN, juga menuduh para anggota Hizbullah dari Lebanon turut membantu Iran. "Iran dan Hizbullah adalah elemen teror yang membahayakan stabilitas kawasan, juga berbahaya bagi kestabilan dunia," tambah Barak.

     Tuduhan itu jelas dibantah keras Iran. "Republik Islam Iran yakin bahwa elemen-elemen rezim Zionis bertanggungjawab atas aksi teroris itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ramin Mehmanparast, Rabu waktu setempat. Iran selalu menyebut pemerintah Israel sebagai zionis.

    Mehmanparast juga menilai bahwa Israel berupaya menghancurkan "hubungan yang baik dan bersejarah antara Iran dan Thailand." Mehmanparast menilai, rezim zionis Israel sedang menutup-nutupi peran mereka sendiri dalam aksi teror, termasuk pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir Iran dalam beberapa bulan terakhir.

    Namun demikian, Kepolisian Thailand mulai menemukan titik terang dalam penyelidikannya. “Bahan peledak yang digunakan dalam bom di Bangkok mengandung strip magnet yang khas. Bila dibandingkan dengan bahan peledak dari bom yang meledak di New Delhi, India, bisa disimpulkan terdapat banyak kesamaan,” ujar Wakil Perdana Menteri Thailand, Yuthasak Sasipraha. Namun dia menilai bom Bangkok berbeda jenis karena bersifat anti-personel, bukan dari jenis peledak untuk membobol bangunan.

    Meskipun peran Iran dalam aksi teror bom di Bangkok belum dipastikan, para pengamat masalah internasional mulai mencemaskan dampak aksi-aksi terselubung itu pada stabilitas dan keamanan di kawasan Timur Tengah.  Kondisi ini i ditakutkan dapat membuat aksi kekerasan tidak terkendali dan pada akhirnya berujung pada perang.

    "Keadaan saat ini terus memanas dan ada kemungkinan akan terus meningkat, khususnya dari segi percobaan pembunuhan dari kedua belah pihak," ucap Direktur Program Kontrateroris dan Intelijen Washington Institute Mattew Levitt seperti dikutip Bloomberg, Selasa lalu.

    Sementara itu, tim penyidik dari kepolisian India masih memburu pengebom yang bertanggung jawab atas meledaknya mobil milik Kedutaan Besar (Kedubes) Israel di India.  Menteri Dalam Negeri India, Palaniappan Chidambaram, menilai serangan bom itu adalah serangan teror yang dilakukan oleh seorang ahli yang dilatih dengan baik. Namun, Israel menuding Iran dan pejuang Hizbullah berada di balik serangan itu. Israel saat ini juga mengirimkan ahli forensik untuk menyelidiki ledakan bom di New Delhi.

    Ledakan itu terjadi pada Senin pekan lalu, pukul 15.00, di salah satu persimpangan yang ramai di tengah kota News Delhi, India. Seorang pengendara motor bergerak di belakang mobil milik Kedubes Israel yang berhenti saat lampu merah menyala dan memasang bom di pintu belakang mobil tersebut. Pengendara motor itu langsung melarikan diri dengan kecepatan tinggi dan lima detik kemudian, bom meledak.

    India yang merupakan mitra dari Iran menolak untuk melemparkan tuduhan ke pihak-pihak yang dituding oleh Israel. "Untuk saat ini, saya tidak akan menuduh kelompok atau organisasi manapun sebagai pelaku serangan bom ini. Namun, kami tetap mengecam serangan tersebut dengan keras," ujar Chidambaram, seperti dikutip Associated Press, Selasa lalu.
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]