Kesehatan
Mainan Beracun Ancam Si Buah Hati
Bahan Beracun
Oleh : erwin Purba
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
Toko mainan anak - anak (dok FORUM)
  • Sejumlah produsen nakal di beragam negara memakai cat dan bahan pengawet mainan berisi logam berat dan zat kimia beracun yang membahayakan anak-anak.

    Abzar , 3 tahun, tampak asyik dengan mainan puzzle (susun gambar) dan color bricks (balok susun warna-warni) yang dibelikan orang tuanya. Dia menyusun puzzle berbahan karton keras dengan gambar berwarna dan membentuk susunan balok dari kayu dengan warna cerah itu. Karena berbahan bukan logam dan tepiannya tumpul,kedua mainan itu dianggap aman bagi bocah cerdas tersebut.

    Namun setelah bermain beberapa lama, Abzar mulai mengeluh pada ibunya. “Tangan Abzar kotor…mainannya bau…” katanya, sambil meminta tissue basah untuk membersihkan jemarinya  yang berlepotan cat.  Sang ibu mencium bau cat yang kuat, serupa dengan cat pada mainan anaknya.  Noda cat itu ternyata sulit dibersihkan,sehingga tangan Abzar harus dicuci berulangkali dengan sabun.

    Kondisi itu mungkin sering dialami oleh para orang tua yang membelikan mainan baru bagi anak-anaknya. Ada yang berpikir masalah itu terjadi karena mainan masih baru dan cat apapun memang akan mengelupas dalam jangka waktu tertentu. Tapi, bagaimana kalau serpihan cat itu termakanoleh si anak atau terkena di bagian matanya?

    Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memperingatkan agar mainan yang kondisi seperti itu lebih baik dibakar atau dimusnahkan saja. “Serpihan cat itu terbukti mengandung zat-zat kimia beracun dan logam berat yang bisa membahayakan kesehatan, bila terhirup atau tertelan oleh anak-anak. Sebut saja timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan kromium (Cr),” kata Noor Jehan, staf peneliti dari YLKI di Jakarta beberapa waktu lalu. Padahal anak-anak  sering memasukkan benda asing ke dalam mulut atau hidungnya cuma untuk coba-coba saja.

    Peringatan ini bukan  fitnah kepada pedagang dan produsen mainan edukasi untuk anak-anak. YLKI menggandeng Departemen Kimia pada Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di Universitas Indonesia untuk melakukan pengujian ilmiah pada mainan edukasi mulai Maret 2011yang hasilnya diumumkan belum lama ini. 
    Para peneliti itu membeli sampel mainan local dan impor dari pasar mainan Pasar Gembrong di Jakarta Timur yang dikenal sebagai pusat grosir mainan murah. Mereka juga membeli mainan impor maupun buatan dalam negeri yang dijual di mall-mall mewah di lima wilayah DKI Jakarta, seperti Senayan City, Pejaten Village, Ciputra Mall, ITC kuningan dan Cempaka Mas. Jumlah mainan yang diteliti mencapai 21 unit dari jenis mainan edukasi berbahan kayu dan kertas,seperti sempoa (alat berhitung tangan) , kereta kayu, balok ukur, balok rumah-rumahan, dan puzzle..

    Selain kandungan zat-zat kimia ini, tampilan fisik mainan edukasi juga tidak aman untuk anak-anak. Cat yang mudah terkelupas, bau dan warna yang sangat mencolok, serta kurangnya informasi yang jelas dalam bahasa Indonesia pada kemasan mainan edukasi itu membuat orang tua kurang waspada memastikan keamanan produk tersebut.  “Selain untuk cat  mainan, zat-zat kimia beracun itu juga dipakai pada lilin mainan dan alat tulis berwarna seperti krayon dan pensil warna,”lanjut Jehan.

    Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia FMIPA-Universitas Indonesia, Sunardi MSi, membenarkan sinyalemen dari YLKI tersebut. Penelitian di laboratorium khusus bahan kimia menunjukkan kandungan logam berat dan zat kimia beracun dalam takaran yang mencemaskan. "Mayoritas mainan edukasi ini mengandung logam Pb, Hg, Cr, dan Cd, dengan nilai bervariasi dalam pewarna dan zat aditif yang dipakainya," kata Sunardi (lihat tabel.RED).

    Apa sih bahayanya zat-zat kimia itu bagi anak-anak? Karena daya tahan tubuh dan proses pembentukan organ tubuh yang belum sempurna, kontaminasi logam berat dan zat kimia beracun akan lebih mudah masuk dan berdampak besar bagi kesehatan anak-anak. Berikut dampak yang umumnya dirasakan manusia ketika terkena paparan logam berat dan zat kimia berlebihan.

    Timbal (Pb) dapat menyebabkan rasa gelisah, tubuh terasa lemas, dan depresi (tekanan batin). Kondisi mental  ini dapat memicu kerusakan pada sistem pencernaan, rasa mual, sakit perut  dan diare. Timbal juga dapat merusak sistem saraf pusat sehingga pasien mati rasa dan vertigo (sempoyongan). Gejala yang berat mencakup kelumpuhan pada beberapa kelompok otot, sehingga pergelangan tangan dan kaki jadi terkulai, kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan koma.

    Merkuri (Hg) dapat menyebabkan hilangnya keseimbangan tubuh, tuli dan gangguan lain pada fungsi pendengaran, bronchitis dan paru-paru rusak, serta mengakibatkan gagal ginjal.

    Krom atau Chrome (Cr) terbukti dapat memicu kanker paru-paru yang mematikan, kerusakan pada organ hati dan ginjal. Jika terjadi kontak kulit dengan kulit pasien menyebabkan iritasi, dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Kadmium (Cd) diketahui mampu merusak pembuluh darah penggunanya. Tekanan darah pun melejit tinggi, sehingga bisa memicu serangan stroke,gagal jantung dan kerusakan ginjal.

    Menghadapi fakta ini, YLKI mendesak pemerintah untuk memperketat proses pengawasan terhadap kualitas produksi, distribusi dan penyebaran mainan buatan dalam negeri maupun luar negeri. “Salah satu caranya adalah meningkatkan kepatuhan produsen dan pedagang mainan terhadap regulasi Standar Nasional Indonesia (SNI).Sehingga kualitas dan keamanan produk mainan dapat dipertanggung jawabkan,” ujar  Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi.

    Apakah SNI yang berlaku kini masih kurang? “Dari temuan YLKI dan FMIPA-UI itu, terbukti bahwa standar produksi dan kualitas mainan yang berlaku saat ini masih berpotensi membahayakan anak-anak," lanjut Tulus.

    Namun diakui pula bahwa kadar kandungan logam beratnya masih di bawah ambang batas keamanan industry.Walaupun begitu, karena kondisi fisik dan mental anak-anak masih sangat rentan, jumlah logam berat dan zat kimia yang terpapar terus menerus di tubuh mereka akan berbahaya. Selain kerusakan pada organ-organ tubuh yang vital, daya tahan dan kemampuan belajar anak-anak itu pun menurun seiring bertambahnya usia mereka.

    Tulus Abadi mendesak pemerintah untuk tidak menetapkan batas rendah atau tinggi untuk kandungan logam berat dan zat kimia berbahaya pada mainan anak-anak. Semestinya, menurut Tulus, tidak boleh ada zat-zat beracun apapun didalam bahan baku mainan. “Kadar rendah pun berbahaya. Kalau negara lain bisa mewajibkan kadar bahan berbahaya sampai nol,kenapa kita tidak bisa?” katanya.

    Kondisi semacam ini sebenarnya sudah terdeteksi di Amerika Serikat sejak tahun 2009. Kelompok pemerhati konsumen Ecology Center menyimpulkan bahwa sepertiga dari mayoritas mainan untuk anak-anak di sana ternyata mengandung bahan kimia berbahaya. Kelompok ini menguji 700 jenis mainan anak-anak yang dijual di berbagai kota di AS pada musim belanja  tahun 2009.

    “Terdapat kandungan timbal, cadmium, arsenic dan merkuri dalam bahan cat, bahan pengawet dan bahan baku yang dipakai pada lebih dari 200 jenis mainan yang diuji dilaboratorium resmi,” demikian pernyataan Ecology Center yang dikutip kantor berita AFP. Kelompok ini memakai standar keselamatan mainan anak-anak yang ditetapkan oleh asosiasi dokter anak American Academy of Pediatrics sejak tahun 2007.

    Kandungan timbal (timahhitam) pada mainan anak-anak ditetapkan tidak boleh melebihi batas maksimal  40 bagian per juta (ppm).  Namun sejumlah mainan ditemukan mengandung kadar timbal lebih dari 300 ppm pada setiap  unitmainan.

    Penelitian dengan memakai lampu pemancar sinar X yang bisa dijinjing menemukan kadar  kadmium lebih dari 100 ppm pada 3,3 persen atau 22 jenis produk yang diperiksa. Ditemukan juga kandungan arsenik melebihi 100 ppm pada 1,3 persen atau sembilan dari mainan yang diteliti itu.

    Apakah Indonesia kini menjadi pasar buangan bagi mainan anak-anak  yang terkontaminasi logam berat dan zat kimia berbahaya itu?Kesimpulan ini bisa diterima karena banyak produk mainan serupa yang ditolak masuk ke Amerika Serikat dan Uni Eropa karena masalah kandungan bahan kimianya. Produsen mainan anak-anak massa di China, Taiwan, Hong Kong dan wilayah lainnya mungkin mengincar Indonesia yang dinilai belum terlalu ketat menerapkan perlindungan konsumennya.
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]