Olahraga
“PSSI Djohar Seperti Metro Mini”
Wawancara : Tonny Aprilani, Ketua Umum KPSI
Oleh : Zulkarmedi Siregar
-
NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
Tonny Aprilani, Ketua Umum KPSI (sportiplus.com)
-
Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) tetap pada sikapnya akan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pada 21 Maret 2012 di Jakarta. PSSI dibawah Ketua Umum Djohar Arifin menurut mereka sudah terlalu banyak melakukan pelanggaran. KLB menurut KPSI jalan satu-satunya untuk menyelamatkan persepakbolaan nasional.
Benarkah demikian? Apa saja pelanggaran yang dilakukan PSSI Djohar Arifin Cs?Apa sebenarnya alasan KPSI menggelar KLB? Berikut penuturan Ketua Umum KPSI Tonny Aprilani kepada Zulkarmedi Siregar dari FORUM, Selasa malam (14/2), di kantor KPSI, komplek Senayan :
Apa dasar KPSI mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI?
Dasarnya, 2/3 anggota PSSI atau sekitar 452 anggota PSSI yang meminta KLB. Sebelumnya, 22 pengurus PSSI provinsi datang ke pengurus PSSI ingin bertemu Ketua Umum PSSI Djohar Arifin. Dua kali mereka datang tapi tak menerima. Dua agenda yang mereka ingin sampaikan. Meminta PSSI mengikuti ketetapan seluruh statute PSSI dan mengikuti hasil kongres di Bali dan segera melaksanakan kongres PSSI tahunan, waktu itu berik waktu sampai bulan Desember 2011, supaya PSSI punya program kerja. Kenapa itu diingatkan, karena PSII hasil kongres Solo belum punya program kerja. Dan seharusnya mengikuti hasil kerja kongres Bali, tapi ini diplintir Djohar Arifin Cs, tak mau diikuti. Padahal surat FIFA dan AFC sudah menegaskan, kongres tahunan yang resmi dan diakui adalah kongres tahunan pada Januari 2011 di Padanan, Bali. Federasi yang lebih tinggi saja sudah mengakui, kenapa PSSI tak mau mengakui itu.
Bukankah ide KLB ini juga disebabkan adanya dua kompterisi, IPL dan ISL?
Setelah kejadian diatas PSSI terus memutuskan dan memulai kompetisi yang direkayasa serta tidak sesuai aturan. Kalau menurut statuta pasal 23 harus 18 klub dan namanya bukan premier tapi suer liga, tu dijelaskan di ayat (1 dan 2). Pada kongres Bali, sudah jelas ditetapkan 18 klub dan namanya ISL. Pengelolanya PT Liga Indonesia. 18 klub itu yang berhak. 14 klub yang bertahan dan 4 klub lagi yang promosi. Pada sudah diputus padas 15 September 2011, pada rapat Exco dan diumumkan langsung oleh Djohar sendiri. Setelah itu, pada 21 September 18 klub ditabtrak, ditetapkan 24 klub. Itu asal muasal persoalan ini. ILP itu sendiri bagi kita adalah kompetisi karbitan. Pengelolaanya tidak profesional, asal jalan, seolah-olah seperti metro mini, kadang jalan kadang berhenti, jedah dulu 4-5 minggu, nunggu penumpang. Ini fakta. Hasil rating media menunjukkan, IPL itu dapat rating tertinggi hanya pada pertandingan pertama, PERSIB lawan Semen Padang di Bandung, yang lainnya rendah. Sedangkan ISL hampir setiap pertandingan mendapat rating media yang tinggi.
Bagaimana sikap FIFA dan AFC terhadap rencana KLB ini?
Ketika PSSI Djohar meminta agar FIFA dab AFC ikut memverifikasi anggota yang ikut mosi tidak percaya, tapi mereka tak mau. Ini artinya, yang FIFA dan AFC meragukan verifikasi PSSI. Yang jelas, PSSI oleh FIFA juga diingatkan agar menyelesaikan persoalan ini secara internal, melalui arbitrase atau kongres. Tapi itu juga diindahkan Djohar Cs. Mereka tetap memaksakan tambahan 6+2 klub jadi 8 kub. Kenapa itu tetap dipaksakan? Ini menyangkut bisnis Rp400- Rp500 miliar. Saya cek ke Bank Indonesia , ternyata Bank Saudara yang membiayai ke konsorsium klub-klub itu. Padahal menurut statuta FIFA menegaskan tidak boleh satu badan atau lembaga memiliki lebih satu klub di profesional.
Djohar menilai ISL itu tak memenuhi syarat standar sehingga harus memulai dari nol. ISL dinilai egois tidak mau menerima anggota IPL. Komentar Anda?
Pertanyaanya, yang dimaksud klub profesional yang tak itu seperti apa. Kalau ISL disebut tak professional, kenapa AFC mengakuinya, kenapa di AFC ada daftar klub-klub yang tergabung di ISL, termasuk rangkingnya. Pertanyaan juga, kenapa klub yang mereka kloning menggunakan nama yang sama, seperti PSMS ada dua, Persija ada dua. Kenapa tak menggunakan nama lain. Kalau itu mereka lakukan mungkin tak ada konflik dengan Persija yang sebenarnya yang sudah punya pemaian dari level bawah sampai atas, sudah memiliki pemain yang berjenjang. Ini uju-ujuk muncul klub dan menggunakan nama yang sudah ada. Itu yang disebut professional? Ini kebodohan Djohar Arifin sebagai professor, sebagai mantan pemain, sebagai mantan pelatih, sebagai mantan Ketua PSSI Provinsi yang pura-pura tidak mengerti. Padahal dalam hati kecilnya dia paham, tapi karena posisinya diperintah jadi seperti yang saat ini. Saya juga pernah diperintahkan datang ke Jenggala, tapi saya tidak mau. Saya katakan sudah ada aturannya pada Djohar. Kalau memang tak ada klub yang profesional hingga harus dimulai dari nol, itu harus dibubarkan melalui kongres. Itu diatur dalam statuta Pasal 40-41.
Menurut Anda sanksi PSSI kepada klub di ISL karena “balas dendam”?
Saya kira disini tak ada urusan soal balas dendam atau tidak. Seperti Pak Agum bilang, kalau rekonsiliasi itu harus dari hati, bukan hanya di omongan saja. Itu pun tidak dilakukan. Buktinya, ketika KPSI mengirim surat ke FIFA dan AFC surat pemecatan kami berempat dari Exco, mereka terheran-heran. Mereka menilai, kalau ada pemecetan seperti itu, seharusnya melalui mekanisme kongres karena kami diangkat kongres. Artinya, menurut FIFA dan AFC keberadaan kami tetap eksis di komite eksekutif. Buktinya kami di undang menonton pertandingan Persipura, PSSI sendiri tidak diundang karena mereka sendiri yang menghalangi mengirimkan Persipura, mereka ganti dengan Persija.
Alasan PSSI membubarkan PT Liga Indonesia karena dinilai tidak bisa mempertanggungjawabkan pengelolaan dana. Komentar Anda?
PT tidak ada hubungannya dengan federasi. PT berdiri sendiri, ada audit tersendiri. Dia mempertaggungjawabkan pada forum resminya. Pertanyaanya, apakah mereka melakukan audit ketika kongres Bali, pasti ada pertanggungjawabnya. Siapa yang mengaudit itu juga harus ditentukan di kongres. Federasi tidak bisa masuk ke persoalan PT-nya.
Tapi, bukankah saham PT Liga Indonesia itu mayoritas dimiliki PSSI?
Itu benar. Tapi itu kan dikembalikannya ke anggota-anggota sesuai kesepakatan. Itu diputuskan saat Nurdin Halid membagi saham itu ke klub-klub karena mereka yang harus menikmatinya. Ini memang semua sudah di rekayasa. Waktu saya ke AFC di Kuala Lumpur, surat-surat yang masuk ke sana tak menggunakan kop surat PSSI, tetapi kop surat LPI, itu saya dokumentasikan semua. Jadi, mereka sudah tak menganggap federasi PSSI ini. LPI itu lupa atau eforia, saya tak tahu. Saya tersinggung, karena saya ada di PSSI berasal dari bawah, sehingga tahu jerih payahnya membesarkan PSSI.
Bukankah LPI itu sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sehingga wadah yang resmi sehingga sah berurusan dengan FIFA atau AFC?
Saya datang kesana atas nama federasi PSSI. LPI bukan federasi bukan. Itu kan alat. Yang terjadi, tabrak sana tabrak sini. Sekarang PSSI ada Swiss mengurus supaya tidak didenda terkait kasus Persipura senilai US$1,9 juta itu. Itu kan gila, masih berusaha menggagalkan Persipura.
Kisruh di PSSI sebenarnya bukan persoalan sepak bola semata. Tapi ini menyangkut persoalan politik dan bisnis antara dua raksasa, antara Nirwan Bakrie dengan Arifin Panigoro. Tanggapan Anda?
Kalau ada pernyataan seperti itu, memang sulit dihindarkan. Karena Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro orang-orang yang gila bola. Pak Nirwan mengelola dua periode dan punya klub yang dikelola secara profesional. Pak Arifin punya Medco Cup yang dikelola dengan bagus. Kalau ada dua kutup, saling berlawanan, saya tidak bisa jawab, yang penting saya bersama kawan-kawan komitmen kepada olah raga sepak bola. KLB ini adalah wujudnya.
Publik membaca, dibelakang PSSI Djohar Cs Arifin Panigoro dibelakang KPSI adalah Nirwan Bakrie. Komentar Anda?
Saya tidak bisa jawab itu. Tapi, pertanyaanya saya, apakah ada orang ujuk-ujuk membiayai sampai ratusan miliar klub-klub itu. Pebisnis mana yang mau seperti itu. Ini sudah jelas ada keterkaitannnya. Dan kami, saya misalnya perwakilan pengurus PSSI Pengprov Jabar merasa prihatin sehingga mendukung habis KPSI dan menggelar KLB. Sudah terlalu banyak penyimpangan yang dilakukan PSSI Djohar Cs.