Profil
Lewat Pesantren Menjadi Akademisi yang Agamis
Dr. Fathurin Zen, SH, M,Si., Dosen Komunikasi Politik Program Pascasarjana Universitas Sahid
Oleh : Darman Tanjung
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
  • Fathurin Zen (Farid/FORUM)
    Jangan menganggap faktor ketiadaan dijadikan penghambat untuk menuntut ilmu. Jika terus berusaha, ikhlas lahir batin, Tuhan pasti menunjukkan jalan.

    Fathurin Zen lahir di Tegalgubung Lor, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat, pada 12 Januari 1961. Anak sulung pasangan H. Barzan Musad dan almarhumah Hj Chasinah ini lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren. Maklum, kakek dari ibunya KH. Hasun merupakan salah satu tokoh agama terpandang di desanya. Setelah tamat dari Madrasah Aliyah, ia melanjutkan pendidikan agama di Pesantren Salafiyah Al Anwariyah.  Para kiay di sana banyak berasal dari Tebuireng, Jombang, dan pesantren-pesantren salafiyah lainnya di Jawa Timur.  Oleh karenanya, pandangan kiay-kiay di sana tidak jauh beda dari cara pandang almarhum Abdurrahman Wahid/Gus Dur (mantan Presiden RI).

    Cara pandang masyarakat di sana juga sangat moderat, toleran, dan penuh dengan budaya-budaya tradisional khas Jawa. Sehingga di kampung itu ada semacam konsensus yang tidak tertulis, apapun profesinya, kuliah di jurusan mana saja, tapi kalau tidak bisa membaca kitab kuning, dia tidak diakui sebagai warga desa. Ini menjadi cambuk bagi Fathur kecil untuk mendalami agama sehingga mampu membaca kitab kuning. Jadilah Tegalgubug Lor sebagai desa yang miskin secara ekonoimi, tapi kaya dengan nilai-nilai agama.

    Lambat laun nilai-nilai kehidupan itu mulai bergeser. Anak-anak muda generasi berikutnya tidak lagi memandang belajar di pesantren sebagai sesuatu yang wajib. Pergesaran nilai itu terjadi karena kemapanan ekonomi masyarakat terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang sedemikian dratis sejak 80-an memunculkan orang-orang kaya baru. Dengan demikian cara pandang masyarakat menjadi tidak nyambung. Masyarakat yang dulunya hidup bertani mulai pindah jadi pedagang. Itu dimulai dari ajakan seorang kepala desa yang mengumpulkan modal secara patungan membeli tekstil dari Bandung. Usaha itu terus berkembang sehingga Desa Tegalgubung menjadi salah satu desa yang memiliki pasar sandang terbesar di Jawa Barat.

    “Pertumbuhan ekonomi masyarakat desa merupakan faktor utama terjadinya pergeseran nilai sehingga mereka merasa belajar kitab kuning atau pesantren bukan lagi suatu keharusan. Itu juga terjadi pada adik-adik saya,” ungkap Fathur saat berbincang dengan Forum di Kantor Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu lalu.

    Beban moral sebagai anak pertama dari 10 bersaudara membuat Fathur berpikir untuk meninggalkan kehidupan desa. Awal 80-an ia hijrah ke Ibukota. Di Jakarta, ia hidup sebatang kara. Bermodal uang saku 700 perak dipotong ongkos bis, ia mulai menjalani hidup sebagai pedagang karbit di kawasan Salemba, Jakarta Pusat . Pedagang kaki lima di Jalan Salemba menjadi pelanggannya.  Saban hari ia berkeliling menggunakan sepeda butut untuk menawarkan barang dagangannya. Maklum, zaman itu listrik masih terbatas sehingga karbit sangat dibutuhkan para pedagang  sebagai bahan bakar untuk berjualan malam hari. Suatu ketika ia pernah ‘”dikerjai” para preman di sana. Barang dagangannya diambil sampai berserakan ditrotoar. Karbit tersebut hancur tak bisa dijual lagi. Fathur hanya bisa pasrah dan termenung menyaksikan ulah para begundal itu.

    Selama setahun ia menjalani kerasnya kehidupan kaki lima Jakarta. Saking sulitnya hidup, ia sempat tidak makan selama dua hari. “Saya ingat betul saat ulang tahun saya yang ke- 20, saya tidak makan selama dua hari. Kalau itu saya ceritakan kepada anak saya, mereka tidak percaya,” katanya mengenang awal perjalanan hidup di Jakarta.

    Pergulatan hidup yang sedemikian keras tak membuat semangat Fathur melempem. Ia tidak menyerah dan tetap yakin suatu saat nanti akan datang pertolongan dari Tuhan. Berbekal ilmu agama yang dimilikinya, Fathur terus bersosialisasi di lingkungan tempat  tinggalnya di kawasan Menteng Atas. Di sana ia aktif di menjadi pengurus karang taruna dan pengurus remaja masjid. Ia juga aktif mendatangi tempat-tempat pengajian di seputar Menteng.

    Pucuk di cinta ulam tiba. Karena kebiasannya bersosilisasi dari masjid- ke masjid, ia ditawari seseorang untuk mengajari orang tua belajar agama. Konon orang tua tersebut berasal dari Yogyakarta. Dia diajak oleh anaknya yang sudah sukses tinggal di Jakarta. Namun, nenek tersebut tidak betah dan selalu meminta pulang. Si nenek itu mengaku tidak kerasan karena tidak bisa mengikuti pengajian seperti di kampungnya. Singkat cerita, Fathur bersedia mengajari nenek tersebut belajar agama dengan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil. Dari honor mengajar mengaji itu lah akhirnya ia bisa membiayai kuliah di IKIP Jakarta.

    Lulus D3 dari IKIP Jakarta, ia melanjutkan SI di Universitas Terbuka. Pada tahun 1986 ia mengambil kuliah lagi pada jurusan hukum perdata di Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta hingga meraih gelar sarjana hukum empat tahun  kemudian. Semangat menimba ilmu tak berhenti sampai di sana. Pada 1998, Fathur mengikuti S2 bidang Ilmu Komunikasi. Sukses merengkuh gelar master, ia pun melanjutkan pendidikan di jenang S3. Gelar master dan doktor pun diraihnya dari Dapartemen Ilmu Komunikasi Pascasarja FISIP Universitas Indonesia.

    “Saya selalu berpesan kepada siapapun agar jangan menganggap faktor ketiadaan itu dijadikan penghambat untuk menuntut ilmu. Kalau kita berusaha, ihklas lahir batin, Tuhan pasti menunjukkan jalan,” katanya.

    Meski  memiliki disiplin ilmu yang beragam, ia mengaku lebih tepat disebut sebagai pendidik atau akademisi.  Karirnya dimulai sebagai guru matematika di SMA Negeri  55 Jakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil direktur SMU Dwiwarna Borading School , Parung, Bogor, Jawa Barat dan sebagai pengawas pendidikan di Yayasan Pendidikan Rawdhatul Jannah Ciawi, Bogor. Saat ini ia aktif menjadi dosen Komunikasi Politik pada Program Pascasarjana  Universitas Sahid (Unsahid) Jakarta dan pengajar Retorika dan Statistika Sosial pada FISIP Universitas Negeri Jakarta.  Sebelumnya, ia juga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta seperti STIE Perbanas, Universitas Trisakti, Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Indonusa Esa Unggul.

    Dari berbagai gelar sarjana yang diperoleh, ia mengaku gelar ilmu hukum lah yang tidak pernah dijadikannya sebagai profesi. Padahal,  ia pernah ditawari untuk menjadi praktisi hukum.  Tawaran tersebut tidak diambil karena ia merasa  tidak sesuai dengan profesi tersebut. Meski demikian,  ia  tetap bersentuhan dengan dunia hukum. Pasalnya ia diminta duduk sebagai Anggota Majelis Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Provinsi DKI Jakarta sejak 2011 hingga sekarang.

    Selain sebagai pendidik  dan akademisi, ia juga sangat aktif dalam kegiatan keagamaan.  Pernah menjadi pengurus pusat LP Ma’arif Nahdlatul Ulama  pada 2005-2009. Anggota Dewan Masjid Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat sejak 2000 sampai sekarang.

    “Berbekal pengetahuan agama yang saya dapat di pesantren dulu, maka  tidak heran kalau kemudian aktifitasnya saya lebih banyak di masjid- masjid besar seperti Masjid Sunda Kelapa,” katanya mengenang perjalanan hidupnya hinga menjadi pengurus Dewan Masjid Sunda Kelapa.

    Di Masjid Sunda Kelapa, ia menjabat sebagai Dewan Takmir. Tugasnya mengontrol isi ceramah para kiay sehingga tidak terjadi penyimpangan. Sebab, Masjid Sunda Kelapa memiliki visi menjadi masjid yang humanis dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh umat. Mengakui kebinenekaan dan menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah umat. Tak mengherankan kalau penceramah di masjid bersejarah ini berasal dari berbagai mashab atau aliran keagamaan.  Masjid Sunda Kelapa  membawa islam yang membawa kasih kepada seluruhnya. Bukan kepada umat Islam saja.  Ia mengaku tidak setuju dengan pemikiran seolah-olah ajaran kelompoknya yang paling benar. Jangan pernah berkata ini menurut islam. Tapi berkatalah ini menurut saya tentang islam yang saya pahami. “ Jadi cita-cita saya dalam konteks agama adalah ’mengislamkan orang islam’. karena KTP,” katanya. 

    Di awal-awal reformasi, Fathur juga sempat bersentuhan dengan dunia jurnalistik. Berbekal gelar master Komunikasi yang dimiliki, ia bersama beberapa temanya mendirikan Media Watch Society. Lembaga ini bertujuan mengontrol media dalam persoalan-persoalan politik.  Menurut dia, posisi media watch di Indonesia belum mendapatkan tempat karena tidak diberi ruang oleh pemerintah. Keberadaan media watch lebih banyak mendapat dukungan dari masyarakat civil. Padahal menurut UU Pokok Pers N0 40 Tahun 1999 salah satu pasalnya menyebutkan, selain media sebagai watch dog yang mengontrol kinerja pemerintah (kebijakan publik),  ada juga dewan pers dan masyarakat.  Berbeda dengan di luar negeri, kalau di luar negeri media watch tumbuh karena memang ada kepentingan negara untuk mengontrol media. Sehingga kehadiran media watc sangat penting. 

    Di tengah kesibukannya sebagai pengajar, ia juga aktif memberikan ceramah pada beragam seminar dan pelatihan, baik di dunia pendidikan, dunia usaha dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Ayah tiga anak ini juga aktif menulis artikel tentang Islam, pendidikan, politik, komunikasi dan hukum. Bukunya yang telah terbit antara lain, Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi Umum (penerbit Ghalia, Jakarta, 2004), NU Politik: Analisis Wacana Media ( LKiS Yogyakarta, 2004), Perbandingan Ideologi Pers Orde Baru dan Orde Reformasi dan Adopsi Inovasi pada Masyarakat Kota (PT Forum Media Utama Jakarta, 2009), serta Tuntutan Agama bagi Nelayan (YA-UI Press Jakarta, 2011). “Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan terbit buku baru,” katanya.

    Meski sudah berhasil menaklukkan Jakarta, namun Fathur tidak pernah lupa akan kampung halamannya. Pulang kampung baginya bukan sekedar nostalgia. Ia masih ingin berkontribusi kepada madrasah tempatnya menuntut ilmu agama sewaktu kecil.  “Masih ada tanggung jawab moral kepada pesantren tempat saya dulu menuntut ilmu agama,” tutur Fahturin Zen.

    Salah satu obsensi  yang ingin diwujudkan Fathur adalah mendirikan pesantren mahasiswa. Lokasi yang menjadi bidikannya adalah  jalur kereta api Jakarta-Bogor. Sebab di sana terdapat banyak perguruan tinggi seperti Universitas Nasional, IISIP, Universitas Pancasila, Universitas  Gunadarma, Universitas Indonesia , dan Institut Pertanian BogorI, yang mahasiswanya umumnya berasal dari luar kota. Mereka ini perlu diakomodir dengan mendirikan pesantren mahasiswa sebagai asrama. Konsep pesantren mahasiswa itu berbeda dengan asrama mahasiswa kebanyakan. Konsepnya lebih moderat di mana  di dalam komplek pesantren tersebut disedikan fasilitas masjid, asrama putra-putri. Di sana mereka akan dibekali pemahaman agama yang substansinya bagus untuk masa depan Indonesia.  “Jika pemahaman agamanya bagus, moralnya bagus, paling tidak mereka bisa mereduksi tingkat korupsi dan mengerti dengan rakyat. Dia bisa membawa nama Islam dengan harum,” katanya memaparkan tujuan obsesinya ini.

    Salah satu alasan Fathur ingin mendirikan asrama pesantren mahasiswa karena kondisi umat Islam yang sangat memprihatinkan.  Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi justru umat muslim di Indonesia dinilai sangat parah dalam hal sumber daya dan dalam implementasi nilai-nilai Islam tersebut.

    Menurut Fathur, fakta ini tersaji dalam tulisan Rektor Universitas Islam Negeri  Syarif Hidayatullah, Jakarta,  Komaruddin Hidayat, di sebuah surat kabar nasional terbitan Ibukota, akhir 2011 lalu. Dalam penelitian sosial bertema ” How Islamic are Islamic Countries”   itu justru Selandia Baru berada di urutan pertama  negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan  kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.  Penelitian itu dilakukan oleh  Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang dipublikasikan dalam  Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010).

    Dari 56 negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistan (147), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

    “Bicara korupsi, korupsi pasti bertentangan dengan agama. Tapi kita korup negaranya. Bicara polusi, juga ditentang semua agama. Kita polusinya juga tinggi. Bicara kebersihan, kedisiplinan, semua carut-marut,” tegas pria yang juga kerap menjadi pembimbing haji dan umroh ini. “Jadi harus dibentuk mahasiswa-masiswa yang pemahaman ilmunya luar biasa dan moralitasnya tinggi sehingga membawa harum nama bangsa dan agama,” tambah Fathur.

    Fathur berharap, kelak obsesinya itu akan terwujud. Apalagi ia punya pengalaman mendirikan sekolah Dwiwarna di Parung, Bogor, Jawa Barat, bersama Ginandjar Kartasasmita (mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua BAPPENAS 1993-1998-red). Insya Allah.  

    Biodata:

    Nama               : Dr. Fathurin Zen, SH, M,Si
    Pekerjaan        : Dosen Komunikasi Politik pada Program Pascasarjana  Universitas Sahid

    Pendidikan        : 

    -     Pesantren Salafiyah Al Anwariyah Cirebon, Jawa Barat
    -    D3 Matematika IKIP Jakarta
    -    S1 Matematika Universitas Terbuka
    -    S1 Fakultas Hukum Universitas Negeri Jakarta
    -    S2 Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Indonesia
    -    S3 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

    Pengalaman Kerja    : 

    -    Guru Matematika SMU Negeri 55 Jakarta
    -    Wakil Direktur SMU Dwiwarna Borading School, Parung, Bogor
    -    Komisaris Independen PT Sumi Indo Kabel Tbk
    -    Tenaga Ahli Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta
    -    Pengurus Dewan Masjid Sunda Kelapa Menteng, Jakarta.
    Istri           : Ella Kumaela
    Anak         : 1. Fikry Musthafa
                        2. Farchan Kamil
                        3. Adelia Mofeida
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]