Wawancara
“Pertolongan Tuhan Itu Telah Datang”
Faisal Basri, Calon Independen Gubernur DKI
Oleh : Zulkarmedi Siregar
  • NO. 42 TAHUN XX/20 - 26 FEBRUARI 2012
  • Faisal Basri (Dok FORUM)
    Pemilihan umum kepala daerah DKI Jakarta tinggal menunggu bulan. Warga Jakarta akan berbondong-bondong menuju TPS, memilih gubernur pilihannya11 Juli 2012. Salah satu calon yang sudah memastikan maju adalah ekonom senior, Faisal Basri. Faisal akan berpasangan dengan Biem Benyamin, mantan anggota DPD daerah pemilihan DKI.

    Faisal basri dikenal sosok jujur. Ini dibuktikannya, pada tahun 2000 mengembalikan uang  BPPN  yang dikirim ke rekeningnya sejumlah Rp120 juta. Dia merasa uang tersebut bukan haknya karena tidak pernah merasa bekerja pada BPPN.

    Ketika disuruh memilih antara pertemanan dan kebenaran, Faisal menjawab dengan singkat. ”Kalau harus memilih antara pertemanan  atau menegakkan kebenaran, maka saya tidak akan ragu untuk memilih yang terakhir,” ujar pria berkacamata ini dengan tegas dan lugas.

    Peraih penghargaan Pejuang Anti Korupsi yang diberikan Masyarakat Profesional Madani tahun 2003 ini sangat menjunjung sebuah kepercayaan. “Tidak boleh sekali-kali kita mencederai amanah yang diberikan orang lain, selama itu untuk kebaikan,” tegas  pendiri Pergerakan Indonesia (PI) ini.

    Sosok satu ini juga sangat dihormati berbagai kalangan. Mulai dari negarawan, penggiat anti korupsi, profesional, politisi, kalangan ulama,  hingga artis seperti Mpok Nori. “Bang Faisal itu kawan saya. Ia tokoh muda. Kita kenal juga dari tulisan-tulisannya. Orang yang jujur, pintar, dan lurus. Faisal juga orang yang dispilin dengan waktu,” ujar musisi besar, Iwan Fals menilai figure Faisal.

    Apa sebenarnya tujuan dari Faisal maju menjadi calon Gubernur DKI lewat jalur independen? Bagaimana Faisal menyelesaikan persoalan-persoalan besar Jakarta? Berikut penuturannya yang disampaikan kepada Zulkarmedi Siregar dari FORUM, di mobilnya, dalam perjalanan dari Kantor DPD ke kantornya di kawasan Menteng :  

    Apa yang Anda tawarkan sehingga warga memang pantas memilih Anda?


    Menegakkan keadilan dan menghadirkan kebahagian. Itu roh dari setiap kegiatan yang kita lakukan dna yang membedakan dengan yang lain yang punya program yang sama, soal macet, banjir dan tata kota. Kebahagian itu sendiri Indonesia sudah sejak lama kemukana, sebelum PBB bicara kebahagian itu, Presiden Italia Sarkozi bicara ukuran-ukuran kebahagian yang baru bagi warga.

    Keadilan yang dimaksud Anda tentu pada prakteknya akan bersinggungungan dengan kepentingan status quo di Jakarta. Bagaimana Anda menghadapi itu?


    Saya yakin, apa yang kita tawarkan tidak akan merugikan siapa pun, tapi bagi yang benar. Kalau yang mencuri selama ini, tentu akan kita libas. Kerjanya selama ini merusak, maaf-maf saja. Kita, berusaha pada satu jalan yang memberikan kepastian buat semua, siapa yang mau ikut, tapi yang tidak bisa tentu tidak bisa pada satu perahu yang sama. Misalnya, ada satu pengusaha yang kerjanya kolusi tender di DKI, nanti akan ketahuan.  Dan kita akan black list selamanya.

    Oleh lawan-lawan politik, termasuk para bandar-bandar tentu mereka terus  mengawasi pergerakan  Anda. Mereka akan memberikan perlawanan. Bagaimana Anda menerobos itu?

    Pada waktu yang sama, kekuatan-kekuatan baik bermunculan secara tiba-tiba, tidak disangka-sanka. Kelompok-kelompok pengusaha profesional, mereka juga menghendaki iklim usaha  yang menghadirkan persaingan sehat. Mereka juga muak dengan cara-cara yang selama ini mereka hadapi. Itu terlihat di berbagai perkembangan. Sebagai contoh, banyak uang masuk ke saya ke rekening. Banyak yang masuk Rp 15 juta, Rp 5 juta, Rp 1 juta, tai banyak. Sudah ada gerakan seperti itu. Makan malam kita buat 300 tempat duduku, semua habis terjual. Ini menunjukkan gerakan dari kalangan professional yang mengingingkan perubahan.

    Ini membuktikan ada kesadaran dari warga Jakarta betapa pentingnya perubahan ?

    Luar biasa.  Sambutan masyarakat setiap kali kita melakukan kunjungan, selalu mengatakan, hidup, hidup calon  independen. Jadi, jangan main-main kepada kekuatan yang selama ini diam, mereka mulai bertindak. Tim saya, Ketua RW, Ketua RT, tidak peduli dan tidak takut ditindas oleh lurah atau camat, mereka tidak peduli itu. Modal sosial ini yang terus kita kembangkan, oleh kawan-kawan di Pergerakan Indonesia dan dimana-mana. Teten Masduki, nyumbang pengaruh dan materi. Ini lebih meluas.    

    Persoalan besar Jakarta adalah banjir dan macet. Dua persoalan bisa dikategorikan luar biasa, tentu solusinya juga harus luar biasa. Apa solusi luar biasa yang bisa Anda tawarkan?

    Tidak ada yang luar biasa. Semua persoalan kota di seluruh dunia ini hamper sama. Jakarta, tidaklah spesifik. Masalah di Jakarta tidak unik, sama semua persoalan di kota-kota dunia. Isu Jakarta itu, urbanisasi yang tidak terkendali, transfortasi public, macet, semua itu ada ukuran-ukurannya sehingga bisa dihitung. Misalnya penduduk sejumlah A, panjang jalan B, maka jumlah maksimum kendaraannya adalah sejumlah C.  Kalau tidak mau macet, panjang jalan ditambah atau jumlah kendaraan dibatasi atau transfortasi massal. Kegagalan kota itu, tidak mengantisipasi trend yang niscaya terjadi. Itu sudah standar dan sudah ada pakem-pakem. Persoalan banjir sederhana, itu ada di hulu. Kalau hulunya sudah rusak, jalan air makin rusak dan di kota ruang terbukanya semakin kecil, ya banjir.  Nyata persoalan di Jakarta, ruang terbuka makin sedikit, sungai makin sempit. Jadi, dimana luar biasanya.

    Jadi, persoalan utama itu sebenarnya ada pada leadership?

    Independensi seoang gubernur ketika menjalankan kebijakan. Kalau dibuatkan kajian, missal ruas jalan di Antasari, dibuatkan jalan laying, itu sudah gila luar biasa. Buat siapa itu jalan. Banyak yang lebih macet disana. Ada apa disana, sedemikian cepatnya disetujui.  Tidak ada jalan sesempit didunia itu yang dibuatkan jalan laying.

    Persoalan lain soal Jakarta adalah birokrasi yang berbelit-belit dan KKN. Bagaimana Anda akan menyelesaikan itu?

    Itu sederhana. Ikan busuk tidak datang dari perut dan ekor, dari kepala. Kalau Gubernur-nya busuk yang semua menjadi busuk. So Simple. Hukum agama juga. Kalau Gubernurnya sendiri buruk, bagaimana Anda mengharapkan birokrasi Anda akan baik.

    Dalam persaingan  pilkada Gubernur Anda dihadapkan kekuatan partai dan uang besar. Bagaimana Anda menghadapi itu untuk bisa menang dalam persaingan?


    Hati rakyat tidak bisa dibeli dengan uang. Semiskin-miskinnya rakyat, dia masih punya hati nurani, punya haraan dan asa, dan dia kini sudah sadar, bahwa sembako membuat dia sengsara. 

    Dukungan yang Anda peroleh hingga sekarang?

    Fotokofi KTP dan formulir dukungan, dana, sumber daya manusia. Bahkan ada yang datang dari Kulonprogo. Wartawan banyak yang dukung, walau mereka mendukung atas nama pribadi. Effendi Gozali, setiap kali jadi moderator, berapa honornya itu, tapi semua itu gratis. Budi baik kawan-kawan,  dari kalangan artis juga banyak, Dewi Sandra, Olga Lidia, Pok Nori, Setiawan Jodi, Buya Syafii Ma’arif. Alhamdulilah, di sekililing saya, ada tidak orang jahat.  Saya tidak mengatakan saya yang paling bersih, tapi saya bahagia kawan-kawan yang bergabung dengan kita adalah orang-orang baik. Kalau orang jahat, akan terseleksi, terpental dengan sistem kita. Dan itu sudah ada.

    Upaya-upaya yang Anda lakukan mengakumulasi kesadaran sosial mendukung perubahan yang Anda usung itu?


    Dialog. Dari arusan tempat dan titik sudah kami kunjungi. Pendidikan demokrasi, kita sampaikan, masa warga mau dan tega hanya dihargai Rp 20 ribu. Terhina sekali, baru goring ikan asin seminggu kemudian menjadi kotoran, lima tahun sengsara. Kita minta, bareng-bareng melakukan perubahan, ternyata mereka mau.

    Apakah ini menunjukkan warga kita sudah muak dengan partai-partai politik?


    Betul. Tapi, kami sampaikan juga kepada mereka, jangan anti partai politik, tapi apa yang kita lakukan adalah dalam rangka mengkoreksi partai politik. 

    Apa sebenarnya, yang membuat Anda terpanggil untuk maju menjadi Gubernur DKI?

    Saya disadarkan lewat kawan-kawan. Inilah momen emas untuk ikut memperbaiki sistem perpolitikan nasional. DKI ini relevan karena refleksi dari kehidupan berbangsa dan bernegara, segala macam ada disini. Jadi, kalau kita bisa selesaikan Jakarta, Insyah Allah juga bisa kita perbaiki.  

    Anda sendiri tentu sudah melakukan pengkajian dan pemetaan terhadap persoalan pokok Jakarta. Apa saja itu?

    Problem kemacetan dan pelayanan transportasi publik, masalah sanitasi/ketercukupan air bersih dan hak jaminan sosial masyarakat serta Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kunci penyelesaiannya terletak pada efisiensi anggaran dan kerjasama yang seimbang dengan daerah sekitar Jakarta. Semua ini harus dilakukan dengan kebijakan yang tegas dan konsisten. Ada lima program pokok yang menjadi prioritas.

    Apa saja itu. Seperti apa penjelasan teknis mengurai kemacetan dan  menghadirkan transportasi publik yang nyaman itu?

    Macet menjadi persoalan yang paling banyak merugikan masyarakat Jakarta. Rugi waktu, biaya, dan stress. Karena itu, transportasi perlu ditata ulang. Setiap tahun 1,7 Trilyun hilang karena macet. Dengan mengutamakan penyediaan dan pelayanan transportasi umum yang baik dan operasi kendaraan umum dibuat saling mendukung, bisa mengatasi kemacetan. Pembenahan operasi kendaraan umum, bisa dimulai dengan mengoptimalkan jalur kereta listrik di lingkar luar Jakarta, sementara lingkar dalam menggunakan busway. Yang terpenting, bila fasilitas transportasi umum sudah memadai, maka pembatasan penggunaan kendaraan pribadi bisa dilakukan.

    Kenapa Anda memprioritaskan  soal  pengelolaan air bersih dan sanitasi?


    Saatnya warga hidup sehat dengan prasarana air bersih dan sanitasi yang sangat baik. Karena ketersediaan air bersih di Jakarta tidak memada, hanya dengan alokasi anggaran yang ketat dan cukup besar, pengadaan air bersih dan sanitasi dapat diwujudkan.

    Anda menyebutkan perlunya memperluas ruang terbuka hijau. Padahal bukti selama ini menunjukkan itu pekerjaan yang berat. Bagaimana Anda melakukan itu?

    Sekarang ini Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang hanya 9% bisa dikalahkan oleh gencarnya pembangunan gedung karena pemberian izin yang tidak terkontrol. Padahal RTH adalah sumber penyimpan air sekaligus memiliki manfaat sosial bagi warga Jakarta. Sudah seharusnya kebijakan RTH menjadi prioritas tata ruang perkotaan berkelanjutan, yang dijalankan sesuai dengan Undang-undang perencanaan kota, bukan malah mengurangi target luas Ruang Terbuka Hijau yang ada. Akibatnya, hidup warga menjadi tidak nyaman. Kita akan mempertahankan ruang terbuka hijau yang ada, dan menambahnya supaya mencapai sasaran seperti yang dibutuhkan warga.

    APBD DKI sangat besat, tapi sepertinya tidak ada efeknya untuk warga Jakarta. Apa cara Anda agar APBD itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga?


    Efisiensi dan penggunaan APBD yang dapat dipertanggung jawabkan.Efisiensi anggaran dimulai dengan penghematan anggaran. Jakarta punya anggaran tidak efisien. Tahun 2012 APBD Rp 31 trilyun, mestinya pendidikan gratis bisa sampai SMA, kesehatan gratis serta jaminan sosial untuk warga bisa terlaksana. Korupsi anggaran harus dihentikan. Efeknya APBD bisa ditingkatkan sampai 40 trilyun, apalagi bila pengelolaan pajak berjalan baik.

    Pendapatan gubernur DKI dinilai sangat besar hingga ratusan miliar per tahun. Ini diduga datang dari upeti-upeti dari bergai pihak, mulai dari para pemborong hingga jajaran Gubernur dibawahnya. Menurut Anda apa solusinya?


    Itu harus datang dari gubernurnya sendiri. Jabatan sebagai komisaris di beberapa perusahaan daerah harus dicabut. Sebenarnya, itu sudah terjadi pada masa Gubernur Sutiyoso. Upah pungut itu kan dari hasil kinerja Dispenda. Oleh karena berikanlah insentif kepada yang memungut, gubernur itu sendiri kerjanya bukan memungut. Jadi, Perda soal itu harus diperbaiki. Jadi, tidak boleh lagi ada pendapatan sampingan. Semua sudah terpenuhi, rumah dinas, mobil biaya opersional, itu semua sudah ada. Kalau saya menjadi gubernur,  untuk mobil cukup sekelas kijang. ASedang sedang aja. Tidak perlu sekelas Crown, Altis, kita harus turunkan standartnya. Sekarang, anggota KPU saja sudah menggunakan Camry, Masya Allah. Insyah Allah kalau gubernurnya hanya pakai kijang, maka semua jajaran dibawah termasuk KPUD-nya juga pakai kijang.

    Kita harus ingat warga Jakarta masih banyak yang miskin. Masih banyak kampong-kampung terbaikan, kantung-kantung kemiskinan, dibelakang Kuningan, dibelakang Thamrin, dibelakangan apartemen juga. Ribuan sekolah masih banyak yang rusak dan ibu-ibu masih banyak yang terkapar, tidak mendapat fasilitas kesehatan. Masih jauhlah melayani masyarakat. Tapi anehnya, kalau Jl Teuku Umar rusak sedikit saja, itu cepat sekali perbaikannya, diaspal setiap tahun. Tapi kalau jalan warga, itu disuruh swadaya, masayarakat. Ada dana PMMK, itu harus 20 persen dari warga. Tapi di Teuku Umar, tempat Ibu Mega, tempat Pak Budiono, itu tidak pernah sharing untuk fasilitas publik.

    Hingga kini Jakarta masih dilingkupi dengan berbagai persoalan dan tak kunjung ada pembenahan yang berarti, sepertinya semua pihak cuek aja. Apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini termasuk di Jakarta?

    Ada yang hilang di Jakarta ini, terutama aspek keadilan. Kenapa hilang dari keadilan, karena warga Jakarta hanya dinilai sebotol minyak goreng. Dikasih sembako, setelah jadi tidak pernah datang, dihubungi teleponya tidak pernah diangkat, no telponnya ganti. Ketika jumpa, ditanya kenapa tidak pernah datang lagi, dengan enteng dijawab, kan sudah jual putus. Kan sudah diberikan sembako. Sekarang giliran saya mengabdi kepada bandar saya, mengganti uang untuk membiayai kampanye saya. Apakah kita warga Jakarta mau seperti itu terus. Ayo kita bertindak, ayo kita bergerak, jangan nistai rakyat seperti itu, harga rakyat hanya Rp 20 ribu, masya Allah ( mata Faisal berlinang). Lima tahun selesai, Rp 20 ribu seminggu kemudian sudah menjadi kotoran, jahat itu politisi. 

    Sebagai calon independen syaratnya kan harus terkumpul sejumlah fotocofi KTP. Itu semua kan tidak gratis?


    Saya sudah mengumpulkan 455.97 foto cofi KTP warga Jakarta, itu semua gratis, masih ada 100 ribu buat stok, kalau nanti ada perbaikan-perbaikan. Jadi, mari kita berjuang bersama-sama, mari berdaya bareng-bareng untuk merebut Rp30 triliun  APBD sekarang, bukan sebesar-besarnya untuk mengurusi orang Menteng, tapi untuk yang membutuhkan. Bukan untuk membiayai baju gubernur yang miliar-an setiap tahun. Haram itu (nada tinggi), tidak bisa itu. Jadi, keadilan itu yang hilang. Kenapa? Karena politik perbandaran. Uang sembako itu kan dari bandar. Sekali buka cabang tim kampanye, itu kan dananya dari bandar.  

    Anda memilih cakon independent, tidak memilih jalur partai. Apa alasan Anda?

    Saya memang pernah di partai, dan itu cuma dua tahun. Keluar total dan tidak pernah masuk atau mendirikan partai. Itu bedanya saya dengan yang lain. Dan saya berjuang dengan masyarakat yang lain. Bukan karena saya anti partai. Karena saya Demokrat sejati, saya ingin partai itu bagus. Tapi kalau tidak efektif dipartai, Rasululloh saja mengajarkan untk hijrah, daripada saya gila di dipartai. Keluar menyelematkan diri, membangun bersama rakyat. Sebagian besar kawan saya adalah orang partai yang tidak menggunakan atribut partai. Kawan saya di PAN, di PDID, di Nasdem membantu saya. Mereka mungkin juga tidak bisa membenahi partai dari dalam dan kalau kita minta benahi juga sangat berat. Kawan saya dari PDIP yang hebat itu, Eva Kusuma Sundari, meminta kekuatan dari luar  mendorong agar partai lebih baik. Itu secara terbuka disampaikan.

    Apa sebenarnya motif Anda menjadi Gubernur DKI?

    Mau kaya? Saya mau jual rumah saya yang sekarang. Sebagian mau membeli rumah yang lebih jelek, sebagian mau biaya anak-anak sekolah suoaya tidak mengharapkan dari korupsi. Anak saya paling besar bertanya, darimana biaya sekolahnya, kalau saya menjadi gubernur.  Dan kalau mau jujur, kekuasaan itu dari dulu ditawarkan kepada saya. Tapi kenapa gubernur? Alasannya, kalau Jakarta beres, Insyah Allah republik ini beres. Kita bisa permalukan daerah-daerah di luar Jakarta dan pejabat-pejabat kita. Kenapa Jakarta bisa? Malu menterinya, Jakarta bisa, kenapa nasional tidak bisa. Ini yang kita pertaruhkan Dan jangan main-main, internasional memperhatikan  Jakarta ini. Saya di wawancara Wall Street journal, BBC London, karena bagi mereka inilah adalah proses yang menarik. Pencalonan independent ini bisa menjadi movement baru. Karena apa yang kita lakukan adalah gerakan politik berbasis gerakan sosial dan budaya.

    Untuk Pilkada Gubernur DKI ini perlu biaya juga, paling tidak untuk biaya operasional. Darimana dana Anda?

    Warga Jakarta bisa membaca di berbagai media, bagaimana saya mencari uang. Kita mencari dana dengan cara swadaya. Kita bikin acara, kursinya kita jual, ada yang Rp 10 juta, Rp 5 juta, RP 2,5 juta. Semua terjual. Dalam satu acara bisa kita dapatkan Rp 1 miliar. Kita tidak minta dana dari bandar, itu hukumnya haram. Oleh karena itu kita minta kepada generasi muda kita, jangan takut miskin masuk politik. Asal dipupuk modal sosial, maka akan datang pertolongan yang luar biasa. Bahkan dari asal yang tidak diduga-duga. Tuhan yang bicara, maka saya berani maju. Buya Syafii Ma’rif mengatakan kepada saya, tidak takut mati, banyak sekali preman, banyak teror. Saya jawab, cuma sekali mati, semoga masuk surga. Ini perjuangan bagi saya yang tidak main-main. Politik kita dibuat mahal, tap insyah Allah Rp 5 miliar belum juga habis. Mari jadi bagian dari gerakan sosial kita, tidak ada kesempatan dua kali seperti ini.

    Seperti apa dukungan yang Anda peroleh hingga kini?


    Semua kawan-kawan mendukung saya secara sukarela. Mereka bekerja tanpa digaji. Warga, khususnya masyarakat kecil, ketika saya datang berkunjung mereka sangat antusias. Mereka menyambut saya dengan suka cita.

    Harapan Anda untuk Jakarta dimasa depan kalau Anda menjadi Gubernur?


    Berbagi kemakmuran bagi warga Jakarta dan bermitra dengan daerah sekitar Jakarta. Bila kepadatan Jakarta dikelola sesuai fungsi ekonomi dan pusat pertumbuhan disebar ke wilayah sekitar, Jakarta akan lebih longgar dan mengurangi tekanan penduduk. Bekerja sama membangun sentra perekonomian di daerah sekitar membuat Jakarta menjadi tertata. Berkembang bersama tetangga adalah cara terbaik untuk menjadikan Jakarta tempat yang aman dan nyaman untuk dihuni.
Bagikan Berita via : Facebook   twitter   Delicous   MySpace   StumbleUpon   Digg
Forum Redaksi
Profil
Jajak Pendapat
Bolehkah Komisi III Datang Sewaktu-waktu Rutan
Yah
Tidak
Tidak Tahu
[Lihat Hasil Polling]